MEMAKNAI PERISTIWA
03.30.09 - 07:39pm
Sesungguhnya keberadaan setiap manusia adalah untuk mencapai sebuah keseimbangan tanpa memandang, apakah keadaan itu disenangi atau tidak, mudah didapat atau sulit.
“{Kami jelaskan yang demikian itu} supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu bergembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu”
QS: Al-Hadid [57] : 23
Ketahuilah, bahwa Allah Maha Adil dalam melimpahkan eksistensi kepada semua makhluk dan bahwa Dialah Tuhan Yang Maha Adil dalam menganugerahkan pola perilaku dan sifat-sifat tertentu kepada makhluk-makhluk itu, berdasarkan pengetahuan yang pasti mengenai kemampuan esensial dan daya terima yang secara inheren ada pada masing-masing mereka. Hal ini terjadi, karena setiap makhluk bereksistensi -apakah dia ditempatkan di dunia fenomenal ataupun tidak- telah memiliki kekhususan dan hakikan tersendiri di dalam ilmu Tuhan, sebelum dia betul-betul muncul dalam bentuk eksistensi lahiriah. Seandainya Tuhan melimpahkan eksistensi yang bertentangan dengan hakikat makhluk, tentulah Tuhan salah atau tidak adil. Perbuatan seperti itu tidaklah mungkin berasal dari Tuhan karena Tuhanlah yang Maha Adil di dalam perbuatan-perbuatan dan kalam-Nya serta seimbang dalam hal melimpahkan nikmat-Nya kepada segala sesuatu.
“Dan kalau Allah melapangkan rezeki bagi hamba-hamba-Nya niscaya mereka melampaui batas di bumi. Tetapi Dia menurunkan apa yang Dia kehendaki dengan ukurannya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat terhadap hamba-hamba-Nya”
QS. 42:27“Tiadalah Kami menciptakan langit dan bumi dan apa-apa (yang ada) di antara keduanya melainkan dengan benar dan waktu yang ditentukan”
QS. 46:3
Imam Ali kw. Berkata :
Ketahuilah dengan ilmu yakin (’ilm al-yaqin), bahwa Allah tidaklah membebankan kepada hamba melebihi daripada apa yang telah ditentukan baginya di dalam kebijaksanaan-Nya. Terlepas dari intensitas usaha yang dilakukan, perjuangan, dan kepintarannya. Selanjutnya, Dia tidaklah mencegah seorang hamba meraih apa yang telah ditentukan baginya dalam kebijaksanan-Nya. Terlepas dari kelemahan ataupun ketidakpintaran hamba itu.
Siapa saja yang menyadari hal ini dan berbuat sesuai dengan ilmu-Nya, akan termasuk orang-orang yang menikmati kesenangan dan manfaat yang besar. Sedangkan orang-orang yang mengabaikan jalan ini, dalam hal perbuatan ataupun ragu-ragu mengenai keabsahannya, maka ia akan termasuk orang-orang yang senantiasa mendatangkan malapetaka bagi dirinya sendiri.
Seringkali terjadi bahwa seseorang dilimpahi karunia yang terus-menerus, dan sering pula yang lainnya ditimpa cobaan dan beban berat. Oleh karena itu, wahai orang-orang yang mendapatkan nikmat Allah, tingkatkanlah rasa terima kasihmu, janganlah tergesa-gesa, dan merasa cukuplah ketika rezekimu mendekati akhirnya.
Oleh karena itu, wajib bagi Allah untuk memberi eksistensi kepada setiap makhluk dalam satu cara yang bersesuaian dengan keadaan diri makhluk itu, tidak menambah ataupun mengurangi ukuran eksistensi khusus tersebut. Inilah keadilan yang hakiki, karena keadilan adalah penempatan segala sesuatu pada tempatnya yang benar.
“Katakanlah, tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing”
QS. 17 : 84“Tuhan kamu (Allah) berfirman, “berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu.”
QS. 40 : 60
Firman ini berarti bahwa stiap orang berbuat sesuai dengan kadaan lahiriah dan bentuk fisiknya, dan pada gilirannya hal ini bersesuaian dengan keadaan batiniah dan bentuk spiritualnya. Seiring dengan itu, Nabi daud as. bertanya kepada tuhannya: “Wahai Tuhanku, mengapa engkau menciptakan makhluk?” Allah menjawab : “Karena hakikat kebenaran yang ditemukan makhluk ada di dalam dirinya.”
Hal ini berarti bahwa terdapat keadaan yang berbeda-beda dalam hal daya derima dan kesiapan mereka. Setelah memahami hal ini bisa dilihat mengapa tidak seorangpun dapat meninggikan suaranya sebagai sikap penolakan terhadap Allah dan tidak seorangpun dapat menuntut untuk mengetahui mengapa ia diciptakan dalam bentuk tertentu. Setiap makhluk mengetahui bahwa Allah sanggup menjawab melalui lidah ilham spiritual sebagai berikut :
Aku tidak melimpahkan eksistensi kepadamu kecuali dalam satu ukuran yang sesuai dengan daya penerimaanmu serta kesiapnmu dan sesuai dengan esensi dan substansimu, dan bukanlah apa yang sesuai dengan diri-Ku. Akulah pelaku dan engkaulah penerima, dan daya penerimaan merupakan bagian dari diri orang yang menerima, tidak pada diri sang Pelaku. Selanjutnya, eksistensimu sesuai dengan esensi dan daya penerimaanmu. Oleh karena itu, penolakanmu berarti penolakan terhadap daya penerimaan dan kesiapanmu sendiri, tidak terhadap-Ku, karena sang Pelaku tidak mempengaruhi orang yang menerima pengaruhnya hanya pada ukuran daya penerimaannya.
Kini jika kamu menyadari bahwa Aku Maha Mengetahui segala halmu, (harus diingat bahwa) ilmu tidaklah berlaku pada apa yang diketahui sampai yang diketahui itu benar-benar terjadi. Di samping itu, kesesuaian (konformitas) merupakan sesuatu yang wajib ada di dalam hubungan antara pengetahuan dan obyek ilmu -karena ilmu bersifat mengikuti apa yang dikethui. Jadi, sesuatu yang mengikuti tidaklah mengetahui hal yang mendahului selain kesadaran tentang hal itu, yakni dalam hal apa dia diciptakan.
Selanjutnya, Akulah yang Maha Bijaksana, yang Maha Adil, yang Maha Mengetahui, dan yang Maha Sempurna. Tidak satupun yang berasal dari-Ku kecuali dalam satu aspek yang bersesuaian. Firman-Ku, “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai (QS. Al-Anbiya [21] : 23) -memperlihatkan bahwa Aku-lah yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana dan bahwa perbuatan-perbuatan yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana tidaklah perlu dipertanyakan. Sebaliknya, merekalah yang dipertanyakan karena kebodohannya tentang kebenaran dan ketidakmampuan untuk menempatkan segala sesuatu di tempat yang benar. Seandainya kamu, seperti Aku, mengetahui hakikat segala sesuatu, baik yang telah lalu maupun yang sekarang, tentulah kamu tidak akan menjadi orang-orang yang ditanya tentang apa yang mereka lakukan. Adapun Aku, Akulah yang Maha Mengetahui, yang Maha Bijaksana, yang Maha Sempurna. Sepenuhnya tidaklah pantas jika pertanyaan-pertanyaan diajukan sehubungan dengan perbuatan-perbuatan-Ku, karena Aku tidak melakukan apapun kecuali bersesuaian dengan ilmu dan kebijaksanaan-Ku serta dalam cara yang setepat-tepatnya. Oleh karena itulah aku berfirman, “… tidak ada yang tersembunyi daripada-Nya seberat zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi. dan tidak ada pula yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan terdapat dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh) (QS. Saba [34] : 3). Itulah titah dari yang Maha Kuasa, yang Maha Mengetahui.
